Ditulis oleh Adnan A. Saleh
Kemiskinan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan moral dan ekologis. Dalam Sustainable Development Goals (SDGs), tujuan pertama yang ingin dicapai adalah mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di seluruh dunia. Namun, upaya ini tidak dapat dilepaskan dari isu lingkungan dan keadilan ekologis. Di sinilah ekoteologi hadir sebagai pendekatan yang menempatkan agama sebagai landasan moral dalam membangun kesejahteraan yang berkelanjutan.
Kemiskinan dan Degradasi Lingkungan: Siklus yang Harus Diputus
Kemiskinan sering kali beriringan dengan kerusakan lingkungan. Masyarakat miskin lebih rentan terhadap bencana ekologis, seperti krisis air bersih, deforestasi, dan polusi akibat limbah industri. Mereka terpaksa mengeksploitasi alam demi bertahan hidup, sementara mereka juga yang paling terdampak oleh perubahan iklim dan bencana alam.
Dalam perspektif ekoteologi, alam bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi juga amanah yang harus dijaga demi kesejahteraan bersama. Prinsip keberlanjutan yang diajarkan dalam berbagai tradisi keagamaan menegaskan bahwa eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga memperburuk ketimpangan sosial. Oleh karena itu, kebijakan yang menargetkan pengentasan kemiskinan harus mempertimbangkan keberlanjutan ekologi.
Ajaran Agama tentang Keadilan Sosial dan Ekologi
Dalam Islam, konsep khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam. Sumber daya alam harus dikelola secara adil dan berkelanjutan, bukan dimonopoli segelintir pihak yang justru memperparah ketimpangan sosial. Ajaran tentang zakat, infak, dan sedekah juga menjadi instrumen penting dalam distribusi kekayaan agar kemiskinan dapat dikurangi.
Dalam ajaran Kristen, prinsip preferential option for the poor mengajarkan bahwa setiap kebijakan ekonomi dan lingkungan harus berpihak kepada kaum miskin. Keberlanjutan ekologis bukan hanya soal melindungi alam, tetapi juga memastikan bahwa kelompok rentan memiliki akses terhadap sumber daya yang cukup untuk hidup dengan layak.
Demikian pula dalam ajaran Hindu dan Buddha, konsep karma dan dharma menekankan keseimbangan dalam kehidupan. Eksploitasi lingkungan secara berlebihan dianggap sebagai tindakan yang akan membawa konsekuensi buruk, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, keselarasan antara manusia dan alam menjadi bagian integral dalam menciptakan keadilan sosial.
Ekonomi Berbasis Ekoteologi: Solusi Berkelanjutan untuk Pengentasan Kemiskinan
Ekoteologi menawarkan model ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan antara lain:
- Ekonomi berbasis komunitas, di mana masyarakat diberdayakan untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, seperti pertanian organik dan ekowisata.
- Ekonomi hijau, yang mengutamakan praktik bisnis berbasis lingkungan dan keberlanjutan, sehingga kesejahteraan ekonomi tidak mengorbankan ekosistem.
- Distribusi sumber daya yang adil, dengan memastikan akses masyarakat miskin terhadap lingkungan yang sehat dan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Pengentasan kemiskinan tidak dapat dipisahkan dari keadilan ekologis. Ekoteologi menawarkan perspektif bahwa kemiskinan bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga tanggung jawab moral untuk mengelola alam dengan adil dan bijaksana. Dengan menerapkan prinsip keberlanjutan dan nilai-nilai keagamaan, kita dapat menciptakan sistem sosial dan ekonomi yang tidak hanya mengangkat masyarakat dari kemiskinan, tetapi juga melindungi bumi bagi generasi mendatang.
Dengan demikian, upaya mencapai SDG 1 harus dilakukan dengan pendekatan yang holistik, yang tidak hanya mengatasi ketimpangan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa eksploitasi sumber daya alam tidak semakin memperburuk kondisi kaum miskin. Hanya dengan cara ini, kita dapat mewujudkan dunia yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan bagi semua.