Laboratorium SDGs IAIN Parepare kembali menggelar diskusi rutin bertajuk Kamisan SDGs #Seri2 pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium SDGs, Gedung Lab Terpadu Lantai 4 ini menghadirkan dua pakar lintas fakultas untuk membedah sinergi antara etika lingkungan, inovasi kreatif, dan kearifan lokal.
Acara ini dibuka dengan antusiasme tinggi dari para akademisi, termasuk kehadiran Wakil Rektor II, Dr. Nurhikmah, yang menegaskan komitmen pimpinan institut dalam menjaga kebersihan lingkungan kampus sebagai bagian dari visi misa institut.
Etika Hijau dan Integritas Berkelanjutan
Pembicara pertama, Dr. Andi Bahri S., M.Fil.I sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), membagikan hasil penelitiannya mengenai daur ulang limbah logam sebagai bahan baku industri kreatif. Beliau menekankan pentingnya edukasi mengenai tanggung jawab lingkungan yang sejalan dengan fiqh Al-bi’ah sebagai jembatan penghubung antara kesalehan personal dengan tanggung jawab ekologis.
"Selama studi di Jerman, saya melihat kesadaran lingkungan yang sangat tinggi memungkinkan air keran langsung diminum karena tidak ada pencemaran," ujar Andi Bahri. Ia membandingkan sistem di Jerman yang berbasis imbalan (reward) melalui penukaran botol bekas dengan kupon, berbeda dengan pendekatan hukuman (punishment) di negara lain.
Andi Bahri juga menyoroti tantangan eksistensi pandai besi di Massepe Kabupaten Sidenreng Rappang yang kini terancam teknologi global. Apalagi dengan standarisasi pemanfaatan besi secara global, mengharuskan pisau yang dihasilkan tidak mempengaruhi kualitas kesehatan.
Ia juga memperkenalkan konsep sustainable integrity sebagai bentuk intervensi yang mengintegrasikan kelengkapan fasilitas, nilai agama, dan insentif akan berkorelasi positif dengan perubahan perilaku komunitas Pandai Besi di Massepe. Harapannya dari integrasi ini dapat menjadikan usaha lebih etis dan lingkungan jauh lebih terlindungi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Inovasi Pendidikan: Mengolah Limbah Menjadi Nilai Ekonomi
Sementara itu, Hasmiah Herawati, M.Pd. dari Fakultas Tarbiyah, memaparkan praktik baik dalam pendidikan kewirausahaan berbasis vokasi. Ia memandang SDGs sebagai respons atas keserakahan manusia yang gagal memaknai keterbatasan sumber daya. Bagi Hasmiah, manusia seharusnya bisa secara sadar memenuhi kebutuhan, ketimbang mengikuti keinginannya.
Dalam pembelajaran, Hasmiah memperkenalkan konsep ESD (Education for Sustainable Development) yang terhubung dengan GCED (Global Citizenship Education for Sustainable Development) sebagai sebuah pendekatan pendidikan transformatif untuk membekali peserta didik siap menghadapi tantangan global. Di ruang-ruang kelas, Hasmiah mengajarkan mahasiswa untuk peduli lingkungan melalui konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Inovasi yang dihasilkan mahasiswa cukup beragam, mulai dari mengubah sendok plastik, tutup botol, hingga sisa kain menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi dan tetap memiliki karakter yang lekat dengan nilai lokalitas.
"Produk mahasiswa kami tetap mengangkat kearifan lokal Sulawesi Selatan, seperti penamaan label menggunakan bahasa Bugis dan huruf Lontara," jelas Hasmiah. Menariknya, produk-produk ini dipasarkan melalui platform digital entrepreneurship berbasis situs web yang menghubungkan mahasiswa langsung dengan pembeli.

Komitmen Menuju Kampus Hijau
Mewujudkan Kampus Hijau di IAIN Parepare dapat dimulai dari perubahan perilaku sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga kampus. Salah satu langkah kecil yang ditekankan dalam diskusi adalah pembiasaan membawa botol minum sendiri atau tumbler guna menekan penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan kampus. Untuk memfasilitasi hal ini, muncul gagasan pengadaan water corner atau titik pengisian air minum di berbagai sudut fakultas, agar mahasiswa dan dosen dapat melakukan isi ulang dengan mudah dan higienis.
Selain itu, kesadaran menjaga kebersihan ruang kelas juga menjadi fokus utama. Mahasiswa dibiasakan untuk tidak meninggalkan sampah sebelum perkuliahan berakhir sebagai bentuk empati terhadap lingkungan. Gerakan kecil ini juga diperluas melalui inisiatif menjadi Musaddik Sampah, yaitu ajakan bagi civitas akademika untuk memilah botol plastik dan menyedekahkannya melalui platform sirkular WesaHub.com dengan titik pengumpulan sampah plastik untuk sementara di bank sampah yang terletak di pelataran Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah. Sampah plastik yang terkumpul akan diberikan untuk membantu ekonomi para pemulung di sekitar kampus.
Kegiatan Kamisan SDGs #Seri2 ini diharapkan tidak hanya berhenti pada tataran diskusi, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku kolektif di lingkungan IAIN Parepare, menuju kampus yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Silakan baca resumen diskusi Kamisan SDGs #Seri2