Parepare – Delapan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesia Raya tahun 2026. Capaian ini menjadi wujud kontribusi sivitas akademika IAIN Parepare dalam mendukung pemajuan kebudayaan nasional melalui penelitian, dokumentasi, revitalisasi, dan pengembangan media edukasi berbasis kearifan lokal.
Keberhasilan tersebut diraih setelah para dosen mengikuti proses pendampingan penyusunan RAB yang difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan. Setelah melalui tahapan seleksi dan dinyatakan memperoleh pendanaan, para penerima selanjutnya melakukan penandatanganan kontrak sebagai dasar pelaksanaan program pada tahun 2026.
Delapan dosen penerima pendanaan tersebut mengusung tema dan pendekatan yang beragam, dengan fokus pada pelestarian warisan budaya, penguatan pengetahuan lokal, dokumentasi tradisi, serta pemanfaatan teknologi dan media kreatif untuk memperluas pewarisan budaya kepada generasi berikutnya.
Fawziah Zahrawati B., S.Pd., M.Pd., mengusung program berjudul *Jejak Karya Perempuan Bugis: Mengungkap Keindahan Motif, Teknik Menenun, dan Makna Simbolik di Balik Tenun Sutera Bugis Sengkang*. Program ini berfokus pada pengungkapan pengetahuan perempuan Bugis dalam tradisi menenun, termasuk nilai estetika, teknik produksi, dan makna simbolik yang terkandung dalam motif tenun sutera Sengkang.
Sementara itu, Syarifah Halifah, M.Pd., memperoleh pendanaan melalui program *Pendokumentasian Berbasis Teks dan Audiovisual untuk Revitalisasi Permainan Tradisional Sulawesi Selatan sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan Rawan Punah*. Program ini diarahkan untuk mendokumentasikan permainan tradisional melalui media teks dan audiovisual sebagai upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya yang berpotensi mengalami kepunahan.
Umaima, M.E., mengangkat judul *Tomassikola: Merekam dan Merangkum Inti Sistem Budaya Bugis dari Maestro Pallontara’ di Kota Parepare*. Program ini berorientasi pada pendokumentasian pengetahuan budaya Bugis melalui keterangan dan pengalaman maestro pallontara' sebagai salah satu sumber pengetahuan tradisional masyarakat.
Adapun Dr. Sulvinajayanti, S.Kom., M.I.Kom., mengusung program *Dokumentasi dan Analisis Ekosistem Pengetahuan Budaya Lipa’ Sabbe sebagai Fondasi Pelestarian Warisan Budaya Takbenda Bugis-Wajo*. Kegiatan ini menitikberatkan pada dokumentasi dan analisis ekosistem pengetahuan yang menopang keberlanjutan tradisi lipa' sabbe sebagai warisan budaya masyarakat Bugis.
Selanjutnya, Fajriyani, M.Pd., mengangkat judul *Dokumentasi Sistem Pengetahuan Lokal dan Tradisi Pembangunan Bola Rai Masyarakat Danau Tempe: Kajian Etnofisika sebagai Upaya Pemajuan Kebudayaan*. Program ini mengintegrasikan pendekatan etnofisika dengan dokumentasi pengetahuan lokal untuk mengungkap prinsip-prinsip pengetahuan yang terkandung dalam tradisi pembangunan bola rai masyarakat Danau Tempe.
Dari wilayah Maluku, Dr. H. Islamul Haq, Lc., M.A., memperoleh pendanaan untuk program *Pengembangan Media Edukasi Digital Interaktif dan Buku Panduan Ekologi Berbasis Kearifan Lokal Sasi di Negeri Iha Pulau Seram*. Program tersebut mengintegrasikan media digital dan literasi ekologis dengan kearifan lokal sasi sebagai pendekatan edukasi mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan.
Sementara itu, Dr. Adnan Achiruddin Saleh, M.Si., mengusung program *Sinema Kampung Taman Semesta: Pewarisan Nilai Budaya Bugis melalui Film Pendek dan Ruang Dialog Komunitas*. Program ini memanfaatkan film pendek dan ruang dialog komunitas sebagai media pewarisan nilai budaya Bugis sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pelestarian budaya.
Penerima lainnya, Dr. Abdillah, Lc., M.H.I., mengusung program *Kodifikasi Norma Hukum Adat Pangngadereng dan Doktrin Moralitas Sosial dalam Ragam Budaya Ritual Maggiri Bissu Segeri Pangkep*. Program ini berfokus pada pendokumentasian dan pengkajian norma hukum adat serta nilai moralitas sosial yang terkandung dalam tradisi ritual maggiri bissu di Segeri, Kabupaten Pangkep.
Keberagaman tema tersebut memperlihatkan cakupan kontribusi dosen IAIN Parepare dalam pemajuan kebudayaan, mulai dari dokumentasi pengetahuan tradisional, pelestarian seni dan permainan rakyat, pengembangan literasi digital, hingga pemanfaatan film sebagai media edukasi dan dialog sosial. Pendekatan multidisipliner ini juga membuka ruang bagi keterlibatan masyarakat dan para pelaku budaya sebagai bagian penting dalam proses pelestarian.
Dari perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), berbagai program tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya Target 11.4 yang menekankan perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam dunia. Dokumentasi tenun sutera Bugis, permainan tradisional, pengetahuan pallontara’, tradisi pembangunan rumah, serta ritual maggiri merupakan contoh upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya melalui pendekatan akademik dan partisipasi masyarakat.
Program-program tersebut juga relevan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya Target 4.7 yang mendorong pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, penghargaan terhadap keanekaragaman budaya, dan kontribusi budaya terhadap pembangunan. Pengembangan buku panduan, media edukasi digital, dokumentasi audiovisual, dan film pendek dapat menjadi sarana pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan lokal dengan generasi muda.
Selain itu, program yang mengintegrasikan kearifan lokal sasi dengan literasi ekologi memiliki keterkaitan dengan SDG 14: Ekosistem Lautan dan SDG 15: Ekosistem Daratan, bergantung pada cakupan ekosistem yang dikaji. Pendekatan tersebut memperlihatkan potensi pengetahuan tradisional dalam mendukung pemahaman mengenai hubungan manusia dan lingkungan.
Dari sisi kelembagaan, keberhasilan memperoleh pendanaan melalui program kebudayaan nasional ini juga mencerminkan pentingnya pendampingan, peningkatan kapasitas akademik, serta kemitraan antara perguruan tinggi dan lembaga pemerintah. Kolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan dalam proses penyusunan RAB menjadi salah satu tahapan yang mendukung kesiapan dosen dalam mengembangkan program pemajuan kebudayaan.
Capaian delapan dosen tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan luaran berupa dokumen, buku, film, atau media edukasi, tetapi juga mendorong pemanfaatan pengetahuan budaya oleh masyarakat. Dengan demikian, pendanaan ini berpotensi menjadi instrumen untuk menghubungkan kegiatan akademik dengan pelestarian identitas budaya, penguatan literasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui berbagai program tersebut, IAIN Parepare memperkuat kontribusinya dalam menjadikan kebudayaan sebagai sumber pengetahuan, pendidikan, dan pembangunan masyarakat. Upaya ini sekaligus mendukung agenda SDGs melalui pelestarian warisan budaya yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebermanfaatan sosial.