Laboratorium SDGs Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) FUAD IAIN Parepare sukses menggelar seri perdana "Kamisan SDGs" pada Kamis, 6 Agustus 2026 berlokasi di Lab SDGs (LAB Terpadu Lantai 4). Kegiatan mingguan ini dirancang sebagai wadah bagi para akademisi untuk mendiskusikan aktivitas Tridarma Perguruan Tinggi dan memetakan keterkaitannya dengan indikator Sustainable Development Goals (SDGs), guna mendorong pelokalan target pembangunan berkelanjutan di lingkungan kampus.
Diskusi ini menghadirkan dua perspektif lintas disiplin. Pembicara pertama, Trian Fisman Adisaputra memaparkan keterkaitan antara krisis lingkungan dan hilangnya nilai filosofis pangan di tengah generasi instan. Ia menjelaskan juga bahwa gas metana dari sampah rumah tangga kini mendominasi emisi penyebab pemanasan global. Hal ini dipicu oleh sikap menyepelekan pangan karena terputusnya hubungan manusia dengan proses panjang pertanian. Dalam kesempatan ini, pembicara pertama mengajak audiens kembali melihat padi (yang menjadi beras) harus dilihat sebagai entitas hidup, bukan sekadar komoditas. Trian menekankan bahwa pengetahuan tradisional, seperti ritual ma’pamulla dan pembacaan tanda alam lainnya sebenarnya merupakan sains berbasis pengamatan berabad-abad yang mampu memprediksi serangan hama hingga bencana alam. Praktik ini sejalan dengan target SDG 2.1 menjamin akses bagi semua orang, terhadap makanan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang waktu, target SDG 8.9. mempromosikan pariwisata berkelanjutan yang menciptakan lapangan kerja dan mempromosikan budaya dan produk lokal , dan target SDG 11.4 Memperkuat upaya untuk melindungi dan menjaga warisan budaya dunia
Sejalan dengan upaya membangun kesadaran manusia, Suhartina memperkenal Model Moderasi dalam pendidikan bahasa Indonesia. Inovasi ini mengintegrasikan empat pilar moderasi beragama—toleransi, komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan budaya lokal—ke dalam keterampilan berbahasa mahasiswa. Tujuannya adalah membekali lulusan agar mampu memproduksi wacana digital yang santun dan berbasis data di platform seperti Kompasiana dan media sosial, guna menangkal banjir hoaks dan intoleransi di ruang publik. Suhartina menjelaskan, “Model moderasi ini selaras dengan tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), tepatnya pada target 4.7 promosi budaya damai dan non-kekerasan dan juga tujuan 16 yaitu Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, pada target 16. 1 mengurangi segala bentuk kekerasan dan angka kematian terkait dimana pun.

Dalam upaya memperkuat dampak institusional, forum ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan aktivitas Tridarma Perguruan Tinggi dengan target spesifik SDGs melalui pendekatan Theory of Change. Integrasi ini tidak hanya berhenti pada pemilihan 17 tujuan besar, melainkan harus masuk hingga ke tingkat 169 target dan indikator teknis guna memastikan setiap aktivitas akademik menghasilkan dampak (impact) nyata bagi masyarakat, bukan sekadar luaran (output) administratif. Tawaran disampaikan dari pembicara maupun dari peserta yang hadir di Kamisan SDGs, seperti melakukan pendampingan penyusunan naskah akademik untuk pengusulan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), konversi hasil penelitian menjadi tulisan populer dan buku referensi, serta pelembagaan indikator SDGs ke dalam kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS). inergi antara pilar sosial, ekonomi, dan lingkungan menjadi kunci utama dalam memastikan program-program kampus bersifat berkelanjutan (sustainable) dan mampu menjawab tantangan riil di lapangan secara komprehensif.