Skip to Content

ISCN Sukses Gelar Webinar Riset SDGs Indonesia, 200 Peserta Antusias Ikuti Secara Daring

Indonesia SDGs Center Network (ISCN) berhasil menyelenggarakan Webinar ISCN: Status, Arah, dan Kebutuhan Riset SDGs Indonesia secara daring melalui Zoom, Jumat (14/8/2026). Mengangkat tema “Memperkuat Peran Riset Perguruan Tinggi untuk Pencapaian SDGs Indonesia”, kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan pemerhati pembangunan berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan webinar yang menghadirkan sejumlah tokoh penting dalam ekosistem pembangunan berkelanjutan Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk mendiskusikan perkembangan riset SDGs, arah kebijakan riset perguruan tinggi, serta kebutuhan penguatan jejaring penelitian agar lebih relevan dengan persoalan pembangunan nasional dan daerah.

Webinar menghadirkan Prof. Arief Anshory Yusuf, Dewan Ekonomi Nasional/SDGs Center Universitas Padjadjaran, sebagai narasumber pertama dengan materi “Perkembangan Riset Terkait SDGs di Indonesia”. Narasumber kedua adalah Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang membawakan materi “Arah Riset Perguruan Tinggi Indonesia”.

Kegiatan diawali opening remarks oleh Pungkas Bahjuri Ali, Ph.D., Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas. Sementara diskusi dimoderatori oleh Prof. Zuzy Anna, Presiden ISCN sekaligus Direktur SDGs Center Universitas Padjadjaran.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Zuzy Anna menegaskan pentingnya memperkuat ISCN sebagai wadah bersama untuk membangun gerakan SDGs yang semakin kuat di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

“Mari bersama menjadikan ISCN sebagai gerakan SDGs terdepan di Asia Tenggara!” demikian pesan Prof. Zuzy Anna yang disampaikan saat sambutan.

Pesan tersebut sejalan dengan arah pengembangan ISCN periode 2026–2028 yang terus memperluas jejaring SDGs Center dan memperkuat kolaborasi antarlembaga. Zuzy menyampaikan ISCN mencatat keberadaan lebih dari 101 SDGs Center, 6 koordinator wilayah, serta 9 program yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem SDGs di Indonesia.

Riset SDGs Harus Menjawab Persoalan Nyata

Dalam paparannya, Prof. Arief Anshory Yusuf menyoroti perkembangan sekaligus tantangan riset SDGs di Indonesia. Salah satu persoalan penting yang dikemukakan adalah perlunya mempertemukan kekuatan riset perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan di berbagai daerah.

Dengan demikian, agenda penelitian perlu bergerak dari orientasi yang semata-mata berpusat pada produksi publikasi menuju penelitian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, pemerintah, dan pembangunan berkelanjutan.

Perspektif tersebut menjadi semakin penting karena persoalan SDGs bersifat kompleks dan saling berkaitan. Kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, ekonomi, ketimpangan, dan tata kelola tidak dapat diselesaikan secara parsial.

Karena itu, perguruan tinggi perlu mengembangkan penelitian yang lebih kolaboratif dan multidisiplin serta membangun hubungan yang lebih kuat dengan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.

Memperkuat Arah Riset Perguruan Tinggi

Sementara itu, Prof. Stella Christie memberikan perspektif mengenai arah riset perguruan tinggi Indonesia. Penguatan riset tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah publikasi, tetapi juga menyangkut kualitas, relevansi, inovasi, kapasitas peneliti, dan kemampuan perguruan tinggi menghasilkan solusi yang dapat dimanfaatkan.

Diskusi tersebut memperkuat gagasan bahwa perguruan tinggi harus mampu bergerak dari sekadar produsen pengetahuan menjadi aktor yang berkontribusi langsung terhadap penyelesaian persoalan pembangunan.

Stella menambahkan bahwa penting menguatkan model insentif bagi peneliti di Indonesia. Pembiayaan yang memang diperuntukkan bagi peneliti.

Dalam konteks SDGs, penelitian perlu diarahkan pada isu-isu yang memiliki dampak nyata serta memperhatikan keterkaitan antara satu tujuan dengan tujuan lainnya. Pendekatan multidisiplin menjadi semakin penting karena persoalan pembangunan berkelanjutan tidak mengenal batas-batas disiplin ilmu.

Kepala Laboratorium SDGs IAIN Parepare, Adnan Achiruddin Saleh, turut mengikuti webinar tersebut menjadi bagian dari komitmen Laboratorium SDGs IAIN Parepare untuk terus terhubung dengan perkembangan nasional mengenai riset dan implementasi SDGs.

Laboratorium SDGs IAIN Parepare sendiri telah terlibat dalam berbagai agenda jejaring ISCN. Dalam pengembangan programnya, Laboratorium SDGs IAIN Parepare juga telah mengembangkan berbagai inisiatif yang menghubungkan riset dengan target SDGs.

Bagi Laboratorium SDGs IAIN Parepare, isu yang dibahas dalam webinar memiliki relevansi langsung dengan agenda pengembangan riset kampus, terutama bagaimana penelitian perguruan tinggi dapat diarahkan agar tidak berhenti pada publikasi, tetapi mampu menghasilkan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.

ISCN Perkuat Jejaring SDGs Center

Keberhasilan webinar ini menjadi bagian dari upaya ISCN memperkuat jejaring SDGs Center di Indonesia. ISCN dibangun sebagai wadah kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antar-SDGs Center untuk mendukung lokalisasi dan percepatan pencapaian SDGs.

Perkembangan jejaring tersebut memberikan peluang bagi perguruan tinggi untuk saling berbagi pengalaman, mengembangkan riset bersama, memperkuat kapasitas, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Bagi perguruan tinggi yang memiliki SDGs Center atau Laboratorium SDGs, jejaring ini juga menjadi ruang penting untuk memperluas dampak program dari tingkat institusi menuju tingkat regional, nasional, bahkan internasional.


Sdgs IAIN Parepar August 15, 2026
Share this post
Tags
Archive
Sign in to leave a comment
Pungkas Bahjuri Ali: Perguruan Tinggi Harus Menjadi Akselerator Pembangunan Berkelanjutan