Skip to Content

LAB SDGS IAIN PAREPARE GANDENG MOKPO NATIONAL UNIVERSITY KORSEL BAHAS KELESTARIAN PESISIR

Laboratorium SDGs Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) FUAD IAIN Parepare bekerja sama dengan International Office (IO) IAIN Parepare kembali menggelar forum diskusi akademis bertajuk Kamisan SDGs #Seri3. Diskusi kali ini mengangkat tema strategis, "From Environmental Responsibility to Social Well-Being and Economic Empowerment: Building Sustainable Coastal Communities".

Diselenggarakan di Lab SDGs Gedung Lab Terpadu Lantai 4, acara ini menghadirkan Prof. Lee Koeun, (Direktur Community Service Center Mokpo National University, Korea Selatan) sebagai pembicara utama. Forum ini dikemas sebagai ruang diskusi santai mengenai aksi nyata pengelolaan lingkungan pesisir yang telah dilakukan MNU (Mokpo National University) selama program musim panas (summer program) di Kota Parepare.

Gerakan Plogging Sore: Mengumpulkan Lebih dari 100 Kg Sampah Setiap Hari

Dalam pemaparannya, Prof. Lee membagikan pengalaman inspiratif tim mahasiswa dalam melakukan aksi nyata penyelamatan lingkungan pantai di Parepare. Dalam kunjungannya tahun lalu, setiap sore delegasi mahasiswa rutin melakukan kegiatan plogging—yakni jalan santai atau jogging sembari memungut sampah di sepanjang garis pantai Parepare. Aksi ini berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 90 hingga lebih dari 100 kg setiap harinya. Sampah-sampah yang terkumpul kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah setempat untuk dikelola, sementara sebagian lainnya diolah menjadi karya seni daur ulang (junk art).

Selain memungut sampah, mahasiswa juga membuat materi edukasi dasar terkait lingkungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal dan anak-anak sekolah. Terkait pentingnya edukasi ini, Prof. Lee menyampaikan,"Our students made educational materials to educate students and community members. In their materials, there is information about very basic environmental elements, for example, global warming. I think you all know about these environmental problems, but I think it is very important to do something to make our environment better. So, I think it's important to share and discuss how we can do that."

Inovasi Junk Art dan Kalung Sea Glass Tanpa Mesin

Tidak sekadar memungut sampah, mahasiswa juga mengubah limbah tersebut menjadi produk estetis bernilai tinggi. Salah satu produk unggulan yang dihasilkan adalah kerajinan tangan kalung dari pecahan botol kaca atau sea glass yang dikumpulkan langsung dari bibir pantai. Prof. Lee menjelaskan kegunaan limbah daur ulang tersebut dalam pemaparannya, "...They used some trash to make products, like plastic bottles with trash, and they drew clean beaches so they can recognize how important a clean beach is."

Keunikan dari kerajinan sea glass ini adalah ujung pecahan kacanya yang sudah tumpul secara alami akibat kekuatan gesekan ombak pantai (waves). Hal ini membuat kaca tersebut aman dirangkai menjadi kalung tanpa perlu dihaluskan menggunakan mesin pemotong atau penghalus khusus.

Komparasi Sistem Sampah: Disiplin Ketat Korea Selatan vs Keluhan Fasilitas Lokal

Diskusi berkembang hangat saat membandingkan manajemen pengelolaan sampah antara Korea Selatan dan Indonesia. Di Korea Selatan, pemerintah menerapkan regulasi yang sangat ketat. Warga diwajibkan memilah sampah minimal ke dalam enam kategori berbeda, mulai dari kertas, kaleng, botol kaca, hingga plastik. Prof. Lee memaparkan kedisiplinan dan konsekuensi hukum yang berlaku di Korea Selatan, “In Korea, we have to pay to throw away trash. We have to classify and sort it. People get punished if they don't do it. We have to use plastic bags to throw away and gather trash. If people do not follow this, they are punished by paying money."

Kontras dengan kondisi tersebut, Yulie Asni sebagai peserta diskusi sekaligus sebagai bagian dari masyarakat Parepare dalam forum menyampaikan keluhannya. Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya masyarakat setempat memiliki keinginan tinggi untuk memilah sampah mereka sendiri. Namun, kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah ketiadaan fasilitas tempat sampah pilah yang memadai dari pemerintah kota di ruang publik. Dari Kamisan SDGs ini diharapkan sebuah kolaborasi internasional yang dapat menjadi jembatan aspirasi, agar pemerintah daerah Parepare segera membangun infrastruktur pengelolaan sampah yang terstandarisasi.

Peluang Kolaborasi Riset Masa Depan Berbasis Teologi Lingkungan

Mengingat IAIN Parepare dan Mokpo National University sama-sama terletak di wilayah pesisir pantai, kedua belah pihak sepakat untuk menjajaki kolaborasi jangka panjang di bidang penelitian (research) dan pengabdian masyarakat (community service). Prof. Lee menyambut baik peluang kolaborasi ini karena kesamaan posisi geografis kedua kampus, "Yes, of course. [Our universities are in a] very similar position because we are close to the sea. So, I am thinking of ideas or doing something together for the environment."

Salah satu gagasan riset kolaboratif yang mengemuka adalah membandingkan metode pengelolaan lingkungan berbasis budaya di Korea Selatan dengan pendekatan keagamaan Islam di Indonesia yang ditawarkan oleh Zulfikar Busrah selaku Kepala Pusat Penelitian pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Parepare. Gagasan ini sejalan dengan kebijakan ekoteologi yang tengah dicanangkan oleh Kementerian Agama RI. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan formula pelestarian pantai berkelanjutan dengan menyentuh sisi kultural dan spiritual masyarakat.

Resume diskusi bisa diakses

Sdgs IAIN Parepar August 21, 2026
Share this post
Tags
Archive
Sign in to leave a comment
ISCN Sukses Gelar Webinar Riset SDGs Indonesia, 200 Peserta Antusias Ikuti Secara Daring