Skip to Content

Pungkas Bahjuri Ali: Perguruan Tinggi Harus Menjadi Akselerator Pembangunan Berkelanjutan

Perguruan tinggi Indonesia perlu melakukan transformasi dalam pengembangan riset agar tidak berhenti pada produksi publikasi ilmiah, tetapi mampu menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi penyelesaian persoalan pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Webinar ISCN: Riset SDGs di Indonesia, yang menghadirkan Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, STP, MS, Ph.D., pada 14 Agustus 2026.

Dalam paparannya, Pungkas menyoroti tantangan daya saing global perguruan tinggi Indonesia, khususnya dalam produktivitas dan kualitas publikasi ilmiah, kapasitas peneliti, lingkungan riset, serta kemampuan perguruan tinggi menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi pembangunan.

Berdasarkan data yang dipaparkan, Indonesia telah memiliki produktivitas publikasi ilmiah yang cukup besar. Indonesia tercatat menghasilkan 64.596 dokumen dengan total 33.317 sitasi, namun rata-rata sitasi per dokumen masih berada pada angka 0,52. Angka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kuantitas publikasi perlu diikuti dengan penguatan kualitas dan pengaruh ilmiah penelitian.

Dalam konteks kawasan, posisi Indonesia juga masih menghadapi tantangan. Malaysia dan Singapura tercatat memiliki rata-rata sitasi per dokumen yang lebih tinggi meskipun jumlah publikasinya lebih sedikit. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya saing riset tidak cukup diukur dari banyaknya publikasi, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian digunakan, dirujuk, dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta penyelesaian persoalan pembangunan.

Tantangan Kualitas dan Kapasitas Peneliti

Tantangan serupa terlihat dari posisi ilmuwan Indonesia dalam kelompok Top 2% Scientists. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam webinar, terdapat 196 ilmuwan Indonesia yang masuk dalam kelompok tersebut, menempatkan Indonesia pada posisi ke-52.

Angka tersebut masih jauh dibandingkan negara-negara dengan ekosistem riset yang lebih kuat. Amerika Serikat, misalnya, memiliki lebih dari 52 ribu ilmuwan dalam kelompok tersebut, sementara China memiliki lebih dari 28 ribu dan Inggris lebih dari 13 ribu.

Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa penguatan ekosistem penelitian nasional tidak dapat hanya bertumpu pada peningkatan jumlah publikasi. Perguruan tinggi perlu membangun lingkungan penelitian yang memungkinkan lahirnya peneliti berpengaruh, riset berkualitas, kolaborasi internasional, serta inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

Paparan juga menunjukkan rata-rata skor perguruan tinggi Indonesia dalam sejumlah dimensi yang dinilai oleh Times Higher Education (THE). Rata-rata skor tersebut meliputi Teaching sebesar 19,49, Research Environment 12,30, Research Quality 28,55, Industry 27,55, dan International Outlook 35,11.

Data tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang penguatan pada hampir seluruh dimensi ekosistem perguruan tinggi, terutama lingkungan riset, kualitas penelitian, kemitraan industri, serta internasionalisasi.

Perguruan Tinggi Tidak Cukup Menjadi Produsen Pengetahuan

Pungkas menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak semata-mata berperan sebagai produsen pengetahuan, inovasi, dan teknologi.

Perguruan tinggi harus mampu menjadi kompas dari kampus, yakni memastikan pengetahuan yang dihasilkan dapat dialihkan, dimanfaatkan, dan memberikan dampak nyata bagi penyelesaian persoalan pembangunan sekaligus memperkuat daya saing bangsa.

Dalam kerangka tersebut, perguruan tinggi diposisikan dalam beberapa peran strategis, yakni sebagai agent of education, agent of research, agent of culture, knowledge and technology transfer, serta agent of economic development.

Perubahan posisi tersebut menuntut strategi transformasi yang lebih komprehensif. Perguruan tinggi perlu memperkuat academic excellence, R&D and innovation, equity and inclusion, governance, funding, serta sistem monitoring and evaluation yang berbasis outcome dan didukung sistem data terpadu.

Dengan demikian, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya dilihat dari seberapa banyak aktivitas yang dilakukan, tetapi juga dari perubahan dan dampak yang dihasilkan.

SDGs Harus Masuk ke Dalam Ekosistem Perguruan Tinggi

Dalam paparan mengenai transformasi menuju riset multidisiplin, pembangunan berkelanjutan ditempatkan sebagai agenda yang perlu diintegrasikan ke dalam seluruh ekosistem perguruan tinggi.

Implementasi SDGs melalui riset perlu diarahkan pada penelitian yang berorientasi SDGs, memiliki dampak nyata dan relevan dengan persoalan sosial, serta melibatkan mahasiswa secara aktif.

Pada saat yang sama, nilai-nilai SDGs perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum melalui pembelajaran aktif dan interdisipliner. Perguruan tinggi juga perlu mengembangkan kampus berkelanjutan melalui efisiensi energi, lingkungan yang ramah, dan pemanfaatan kampus sebagai living lab.

Aspek tata kelola juga menjadi bagian penting, meliputi kebijakan kampus berkelanjutan, transparansi, representasi gender, serta kolaborasi dalam pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, keterlibatan masyarakat dapat dilakukan melalui kerja sama dengan komunitas lokal, program desa, gerakan lingkungan, maupun penguatan UMKM.

Seluruh aktivitas tersebut kemudian perlu didukung sistem pelaporan SDGs, termasuk melalui pemeringkatan dan pelaporan internasional seperti THE Impact Rankings.

Dari Riset Sektoral Menuju Riset Multidisiplin

Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam webinar adalah perlunya mengubah pendekatan penelitian dari sektoral menuju riset multidisiplin.

Tantangan SDGs pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, ekonomi, tata kelola, dan ketimpangan saling berhubungan. Karena itu, penelitian yang hanya melihat satu persoalan dari satu disiplin ilmu berpotensi tidak mampu menangkap kompleksitas pembangunan secara utuh.

Riset SDGs perlu bergerak dari sekadar memahami capaian satu tujuan menuju kemampuan mengidentifikasi interlinkages, kemudian menentukan priority, mencari leverage, dan menghasilkan impact.

Pendekatan tersebut menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

Empat Agenda Utama Perguruan Tinggi

Pada bagian penutup, Pungkas menekankan empat agenda penting bagi perguruan tinggi Indonesia.

Pertama, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan mitra pembangunan untuk menghasilkan riset SDGs yang relevan dan berdampak.

Kedua, menghasilkan riset berkualitas melalui pengembangan penelitian multidisiplin yang inovatif, berbasis data, dan berorientasi pada solusi pembangunan berkelanjutan.

Ketiga, memperkuat kapasitas dan tata kelola, termasuk meningkatkan kapasitas riset, mengembangkan SDGs Center, serta membangun sistem pendukung berbasis data untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai katalis pembangunan.

Keempat, memberikan dampak nyata dengan memastikan pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan dapat diimplementasikan dan mendorong perubahan positif serta mempercepat pencapaian SDGs di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Pesan tersebut menegaskan bahwa masa depan perguruan tinggi Indonesia tidak cukup ditentukan oleh banyaknya publikasi maupun posisi dalam pemeringkatan. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana perguruan tinggi mampu menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan persoalan pembangunan yang nyata.

Sdgs IAIN Parepar August 15, 2026
Share this post
Tags
Archive
Sign in to leave a comment
Riset Perguruan Tinggi Indonesia Belum Sepenuhnya Sejalan dengan Kebutuhan Pembangunan Daerah