Skip to Content

Riset Perguruan Tinggi Indonesia Belum Sepenuhnya Sejalan dengan Kebutuhan Pembangunan Daerah

Kekuatan riset perguruan tinggi di Indonesia belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan pembangunan di daerah. Temuan tersebut mengemuka dalam paparan bertajuk “SDGs Alignment of Indonesia’s Research Strength” yang disampaikan Prof. Arief Anshory Yusuf dalam Webinar Indonesia SDGs Center Network (ISCN), 14 Agustus 2026.

Profesor Ekonomi Universitas Padjadjaran yang juga merupakan anggota Dewan Ekonomi Nasional itu menunjukkan bahwa perguruan tinggi Indonesia menghasilkan publikasi dalam jumlah besar terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak penelitian yang dihasilkan, melainkan apakah kekuatan penelitian tersebut menjawab persoalan pembangunan yang sedang dihadapi setiap daerah.

Analisis tersebut membandingkan kekuatan riset dan kebutuhan pembangunan pada 16 tujuan SDGs di 34 provinsi di Indonesia. Kekuatan riset diukur berdasarkan publikasi Scopus dari 457 perguruan tinggi Indonesia, sedangkan kebutuhan pembangunan dianalisis melalui 285 dimensi indikator resmi SDGs yang dihimpun Sekretariat Nasional SDGs. Selain itu, penelitian juga memperhitungkan prioritas yang dinyatakan pemerintah daerah melalui survei terhadap Bappeda di 27 provinsi pada Februari–Maret 2025 serta kajian terhadap dokumen RPJMD.

Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan antara research supply dan development demand. Dalam analisis tersebut, suatu tujuan SDGs disebut memiliki kesesuaian apabila menjadi salah satu kekuatan utama publikasi perguruan tinggi di suatu provinsi sekaligus menjadi salah satu persoalan pembangunan yang paling lemah di provinsi tersebut.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi perguruan tinggi. Penelitian tidak cukup diarahkan hanya berdasarkan kapasitas akademik yang telah tersedia, tetapi perlu memperhatikan kebutuhan nyata masyarakat dan pemerintah daerah. Dengan demikian, agenda riset dapat menjadi instrumen yang lebih efektif untuk menjawab persoalan pembangunan berkelanjutan.

Kualitas Riset Lebih Penting daripada Sekadar Jumlah Publikasi

Paparan tersebut juga mempertanyakan penggunaan jumlah publikasi sebagai ukuran utama kekuatan penelitian. Analisis terhadap 978.546 artikel jurnal dan review dari 30 produsen riset terbesar di Indonesia selama periode 2015–2026 menunjukkan bahwa hanya sekitar 5,2 persen publikasi yang masuk jurnal Q1.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pemeringkatan berbasis jumlah publikasi dapat menghasilkan gambaran yang berbeda ketika kualitas jurnal diperhitungkan. Dalam pemeringkatan berdasarkan volume publikasi, misalnya, Institut Teknologi Bandung berada pada posisi ke-18. Namun, ketika hanya publikasi Q1 yang dihitung, posisinya meningkat menjadi peringkat ke-4.

Karena itu, Prof. Arief menekankan pentingnya memisahkan indikator kuantitas dan kualitas penelitian. Jumlah publikasi tetap penting untuk menggambarkan produktivitas, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam menilai kekuatan riset perguruan tinggi.

Lima SDGs Mendominasi Riset, Empat Masih Menjadi Celah

Gambaran yang lebih spesifik terlihat dalam SDGs Research Dashboard milik SDG Center Universitas Padjadjaran. Dashboard tersebut memetakan publikasi Q1 dengan afiliasi Indonesia terhadap 17 tujuan SDGs.

Data mencakup 75.892 artikel jurnal Q1 dengan afiliasi Indonesia sejak 2015. Dari publikasi tersebut, sebanyak 32.257 artikel memiliki setidaknya satu tag SDGs berdasarkan kerangka kata kunci Elsevier Aurora. Satu publikasi dapat dikaitkan dengan lebih dari satu tujuan SDGs sehingga persentase antar-goal tidak harus berjumlah 100 persen.

Pemetaan menunjukkan bahwa output penelitian Indonesia masih sangat terkonsentrasi pada sejumlah tujuan SDGs. Sebaliknya, terdapat empat tujuan yang berada di bawah ambang 1 persen dan dikategorikan sebagai research gap dalam dashboard tersebut.

Salah satu temuan paling mencolok adalah SDG 17: Partnerships for the Goals, yang menjadi tujuan dengan proporsi publikasi paling kecil, yakni 286 publikasi atau sekitar 0,38 persen dari keseluruhan output yang dipetakan. Padahal, kemitraan merupakan instrumen penting untuk memperkuat pencapaian seluruh tujuan SDGs.

Kekuatan Riset Sangat Terkonsentrasi

Persoalan lain yang muncul adalah konsentrasi kapasitas penelitian pada sejumlah kecil perguruan tinggi. Dari 2.571 perguruan tinggi yang tercakup dalam korpus data, 10 institusi teratas menguasai sekitar 38 persen seluruh output SDGs Q1.

Sementara itu, sekitar 1.450 perguruan tinggi atau 56 persen dari seluruh perguruan tinggi dalam korpus hanya muncul pada satu publikasi selama sebelas tahun. Tingkat ketimpangan tersebut tercermin dalam koefisien Gini sebesar 0,89.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas riset nasional tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah publikasi. Diperlukan strategi untuk memperluas distribusi kapasitas penelitian, memperkuat kolaborasi antarkampus, dan mempertemukan perguruan tinggi yang memiliki kekuatan tertentu dengan daerah yang membutuhkan keahlian tersebut.

Perspektif Perguruan Tinggi Keagamaan: Fokus pada SDG 16 dan Ekoteologi

Dari perspektif perguruan tinggi keagamaan, temuan ini juga mendapat perhatian khusus. Kepala Laboratorium SDGs IAIN Parepare, Adnan Achiruddin Saleh, menegaskan bahwa perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama memiliki posisi strategis dalam memperkuat pencapaian SDG 16: Peace, Justice, and Strong Institutions, khususnya melalui penguatan moderasi beragama.

“Perguruan tinggi keagamaan tidak hanya berperan dalam produksi pengetahuan, tetapi juga dalam membangun ekosistem sosial yang damai, inklusif, dan berkeadilan. Di IAIN Parepare, fokus riset kami banyak diarahkan pada penguatan moderasi beragama sebagai kontribusi langsung terhadap SDG 16,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa arah pengembangan riset di IAIN Parepare juga mulai diperluas melalui pendekatan ekoteologi, yaitu integrasi antara nilai-nilai keagamaan dan kesadaran ekologis.

“Ekoteologi menjadi jembatan penting untuk menghubungkan spiritualitas dengan keberlanjutan lingkungan. Ini relevan tidak hanya dengan isu lingkungan, tetapi juga dengan keadilan sosial dan tata kelola yang berkelanjutan,” tambahnya.

Menurutnya, pendekatan ini memperkuat posisi perguruan tinggi keagamaan sebagai aktor penting dalam ekosistem SDGs, terutama dalam mengisi celah riset yang tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga etis dan berbasis nilai.

Saatnya Riset Perguruan Tinggi Lebih Responsif terhadap SDGs

Berdasarkan temuan tersebut, sejumlah rekomendasi kebijakan ditawarkan. Pertama, penilaian kinerja penelitian perlu berhenti bergantung pada jumlah publikasi semata dan mulai memberikan perhatian yang lebih proporsional terhadap kualitas.

Kedua, area yang masih minim penelitian perlu mendapatkan dukungan khusus melalui skema pendanaan yang secara eksplisit diarahkan pada isu-isu yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Ketiga, agenda penelitian perlu disesuaikan dengan mandat dan keunggulan institusi. Perguruan tinggi tidak harus dipaksa menjadi kuat pada seluruh 17 SDGs. Sebaliknya, kekuatan yang telah dimiliki masing-masing institusi dapat dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan tertentu.

Keempat, mobilitas akademik dan pertukaran profesor dapat menjadi strategi untuk memperluas kapasitas penelitian. Kelima, pembentukan konsorsium SDG Centers secara nasional dinilai penting untuk memperkuat kolaborasi lintas perguruan tinggi dan lintas daerah.

Terakhir, SDG Centers perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem perencanaan dan penganggaran pembangunan melalui kerja sama, kontrak layanan, maupun skema pendanaan berkelanjutan.

Bagi perguruan tinggi di Indonesia, temuan tersebut memberikan arah baru dalam mengembangkan ekosistem SDGs. Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menunjukkan berapa banyak penelitian yang dihasilkan, tetapi juga perlu menjawab di mana penelitian tersebut dibutuhkan, seberapa tinggi kualitasnya, siapa yang dapat memanfaatkannya, dan seberapa jauh penelitian tersebut berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan pembangunan.

Dengan perspektif tersebut, riset perguruan tinggi dapat bergerak dari sekadar publication-oriented research menuju impact-oriented research—penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi berkualitas, tetapi juga hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Materi presentasi bisa diakses

Sdgs IAIN Parepar August 15, 2026
Share this post
Tags
Archive
Sign in to leave a comment
Dari Pandai Besi hingga Wirausaha Digital: Membedah Strategi Keberlanjutan di Kamisan SDGs #Seri2