Skip to Content

WESA Perkuat Ekonomi Sirkular di Parepare, Akademisi dan Musaddiq Sampah Belajar dari Praktik Korea Selatan

Praktik pengelolaan sampah di Korea Selatan menjadi salah satu pembelajaran penting dalam upaya pengembangan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Parepare. Melalui kegiatan Kamisan SDGs #Seri 3, Laboratorium SDGs Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, IAIN Parepare mempertemukan pengetahuan dari Korea Selatan dengan pengalaman dan perspektif pemangku kepentingan lokal.

Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Lee sebagai narasumber/fasilitator yang membagikan praktik pengelolaan sampah di Korea Selatan, khususnya mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber, pengolahan melalui upcycling, serta dukungan sistem dan regulasi dalam membangun perilaku masyarakat yang bertanggung jawab terhadap sampah.

Dalam pemaparannya, Prof. Lee menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di Korea Selatan dibangun mulai dari sumber. Masyarakat didorong untuk memilah sampah sejak awal sehingga material tidak langsung bercampur dan dapat dikelola sesuai karakteristiknya.

“Hal pertama yang penting adalah melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber, yaitu memisahkan sampah organik, nonorganik, residu, dan sampah beracun,” jelas Prof. Lee.


Menurutnya, pemilahan dari sumber menjadi fondasi penting dalam sistem pengelolaan sampah. Ketika masyarakat mampu melakukan pemilahan dengan benar, proses pengolahan pada tahap berikutnya menjadi lebih mudah dan material yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan kembali.

Selain pemilahan, Prof. Lee juga memperkenalkan pendekatan upcycling, yaitu mengolah material yang telah dipilah menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan dan lingkungan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.

Mempertemukan Pengetahuan Akademik dan Pengalaman Komunitas

Menariknya, kegiatan ini tidak hanya melibatkan akademisi sebagai peserta. Akademisi IAIN Parepare dan Musaddiq Sampah yang berdomisili di Kelurahan Bukit Harapan turut hadir dalam proses berbagi pengetahuan tersebut.

Kehadiran Musaddiq Sampah menjadi penting karena mereka merupakan bagian dari ekosistem masyarakat yang secara langsung berhadapan dengan persoalan sampah di tingkat komunitas. Pertemuan tersebut membuka ruang dialog antara pengetahuan yang diperoleh dari praktik pengelolaan sampah di Korea Selatan, perspektif akademik, dan pengalaman masyarakat lokal dalam mengelola material yang memiliki nilai ekonomi.

Bagi Laboratorium SDGs, proses pembelajaran tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalin praktik Korea Selatan secara langsung. Pengetahuan yang diperoleh justru menjadi bahan untuk melihat bagian mana yang relevan dan dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, kelembagaan, dan karakter masyarakat Kota Parepare.

Kepala Laboratorium SDGs Prodi PMI IAIN Parepare, Adnan Achiruddin Saleh, menilai praktik baik yang disampaikan Prof. Lee memiliki peluang untuk dikembangkan sesuai dengan konteks lokal.

Menurut Adnan, Indonesia sebenarnya telah memiliki regulasi dan berbagai perangkat teknis pengelolaan sampah. Tantangannya adalah bagaimana memastikan fasilitas pemilahan dapat berjalan bersamaan dengan pembangunan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.

“Jadi, kita tidak hanya membutuhkan tempat sampah yang terpilah, tetapi juga masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Di sinilah WESA memiliki peran penting dalam membangun pengetahuan, mengembangkan model pemberdayaan, dan mendorong perubahan perilaku masyarakat.”

Dari Knowledge Exchange Menuju Aksi Lokal

Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini menjadi bagian dari pendekatan multi-stakeholder yang dikembangkan Laboratorium SDGs. Akademisi berperan dalam menyediakan ruang pengetahuan dan pembelajaran, fasilitator dari Korea Selatan memberikan perspektif praktik internasional, sementara masyarakat dan Musaddiq Sampah membawa pengalaman serta kebutuhan nyata dari tingkat komunitas.

Pendekatan tersebut menjadi relevan dengan pengembangan Women Entrepreneur Sustainable Action (WESA) yang menempatkan perempuan pengumpul sampah sebagai Duta Sirkular dan membangun jejaring Musaddiq Sampah sebagai sumber material terpilah.

Melalui model tersebut, pengetahuan mengenai pemilahan dari sumber tidak berhenti pada forum akademik, tetapi dihubungkan dengan praktik komunitas, pengelolaan material, pemberdayaan perempuan, dan pengembangan rantai nilai ekonomi sirkular.

Dengan demikian, kegiatan pertukaran pengetahuan seperti Kamisan SDGs menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan global knowledge dengan local action.

Laboratorium SDGs mendorong agar praktik pengelolaan sampah yang baik dapat terus dipelajari, didiskusikan, diuji kesesuaiannya, dan dikembangkan bersama masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan upaya memperkuat SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan.

Sdgs IAIN Parepar August 21, 2026
Share this post
Tags
Archive
Sign in to leave a comment
LAB SDGS IAIN PAREPARE GANDENG MOKPO NATIONAL UNIVERSITY KORSEL BAHAS KELESTARIAN PESISIR